KARAWANG, JagatNusantara.co.id
Warga RT 002 RW 003, Kelurahan Adiarsa Barat, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, mengeluhkan tumpukan tanah sisa galian proyek drainase yang belum dirapikan selama dua minggu. Kondisi tersebut dinilai mengganggu kenyamanan dan aktivitas masyarakat di lingkungan sekitar. Warga berharap pihak pelaksana segera melakukan penanganan agar akses jalan kembali nyaman dilalui dan lingkungan tetap bersih.
Berdasarkan pantauan di lokasi, material tanah bekas galian masih terlihat menumpuk di bahu jalan dan di sepanjang sisi saluran drainase. Tanah tersebut belum sepenuhnya diangkut maupun dirapikan oleh pihak pelaksana proyek. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran warga karena sisa material dibiarkan begitu saja tanpa penanganan lebih lanjut.
Proyek drainase tersebut diketahui dikerjakan oleh CV Endah Tegar Utama. Namun, setelah pekerjaan galian dilakukan, tumpukan tanah masih berada di sekitar lokasi. Warga mempertanyakan penyelesaian pekerjaan tersebut, terutama terkait penataan kembali area yang terdampak agar tidak menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat.
Akibat tumpukan tanah yang memenuhi sebagian bahu jalan, akses jalan lingkungan menjadi lebih sempit. Kondisi tersebut berpotensi menghambat mobilitas warga yang setiap hari menggunakan jalan tersebut untuk menjalankan aktivitas. Masyarakat pun berharap sisa material segera dibersihkan agar tidak mengganggu pengguna jalan maupun aktivitas di sekitar permukiman.
Salah seorang warga menyampaikan kekecewaannya terhadap pelaksanaan proyek drainase tersebut. Menurutnya, pengerjaan memang berlangsung relatif cepat, tetapi penataan lokasi setelah penggalian dinilai kurang baik. Ia berharap pelaksana tidak hanya memperhatikan kecepatan pengerjaan, tetapi juga memastikan lingkungan sekitar kembali tertata setelah pekerjaan selesai.
“Waktu pengerjaannya cepat, tetapi semrawut dan terkesan asal-asalan. Seharusnya air mengalir ke hilir, tetapi kondisi salurannya justru membuat kami mempertanyakan arah aliran air karena bagian hulunya sangat rendah. Bekas galiannya juga sudah dua minggu dibiarkan,” ujar salah seorang warga.
Warga juga mengungkapkan bahwa tumpukan tanah tersebut menimbulkan dampak berbeda ketika cuaca panas dan hujan. Saat panas, material tanah yang mengering dapat beterbangan menjadi debu dan mengganggu kenyamanan masyarakat. Sementara itu, ketika hujan turun, tanah berpotensi berubah menjadi lumpur dan mengotori jalan maupun lingkungan sekitar.
“Kalau panas, tanahnya menjadi debu. Kalau hujan, tanahnya berubah menjadi lumpur dan masuk kembali ke got,” ungkap warga tersebut. Keluhan ini menunjukkan bahwa penanganan sisa material galian menjadi salah satu hal yang perlu segera diperhatikan. Warga berharap kondisi tersebut tidak terus berlarut-larut karena dapat menambah pekerjaan bagi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Selain persoalan tumpukan tanah, warga turut menyoroti kondisi saluran drainase yang dinilai perlu diperiksa kembali. Mereka berharap konstruksi saluran dan arah aliran air sesuai dengan perencanaan awal. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan bahwa pembangunan drainase benar-benar mendukung kelancaran aliran air dan tidak menimbulkan persoalan baru di kemudian hari.
Warga menilai bahwa proyek pembangunan fasilitas umum semestinya memberikan manfaat bagi masyarakat. Oleh karena itu, penyelesaian pekerjaan perlu disertai penataan lokasi, pengangkutan material sisa galian, serta pemeriksaan terhadap hasil pembangunan. Dengan demikian, tujuan pembangunan drainase dapat tercapai tanpa mengabaikan kebersihan, keselamatan, dan kenyamanan warga di sekitar lokasi.
Atas kondisi tersebut, warga berharap pihak Kelurahan Adiarsa Barat dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Karawang segera menindaklanjuti keluhan yang disampaikan. Warga meminta agar pihak pelaksana proyek diberikan teguran apabila diperlukan dan segera melakukan perapian serta pembersihan sisa material galian yang masih menumpuk di bahu jalan.
Hingga berita ini disusun, keterangan resmi dari CV Endah Tegar Utama maupun Dinas PUPR Kabupaten Karawang masih perlu diperoleh untuk menjelaskan kondisi pekerjaan dan rencana tindak lanjutnya. Warga berharap persoalan tersebut segera diselesaikan sehingga akses jalan kembali nyaman digunakan, lingkungan menjadi bersih, dan saluran drainase dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.
(Reporter: A.D)