Pasien Kritis Diduga Menunggu Hampir 10 Jam, Keluarga Pertanyakan Pelayanan Rujukan RS Juwita


Bekasi, JagatNusantara.co.id
Pelayanan dan proses rujukan pasien di Rumah Sakit (RS) Juwita Kota Bekasi menjadi sorotan keluarga korban kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Keluarga mempertanyakan lamanya proses pemindahan seorang pasien berinisial SA yang mengalami cedera kepala setelah terlibat kecelakaan di Jalan A. Yani, Kayuringin Jaya, Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi, Jumat (11/9/2026). Pasien tersebut sebelumnya mendapat penanganan awal di RS Juwita sebelum kemudian dinyatakan membutuhkan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit lain. Kondisi pasien yang disebut mengalami penurunan kesadaran membuat keluarga semakin khawatir terhadap proses penanganan dan rujukan yang berlangsung.

Peristiwa kecelakaan tersebut melibatkan pasangan suami istri berinisial DR dan SA. Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak keluarga, keduanya mengalami kecelakaan ketika sepeda motor yang dikendarai DR dengan nomor polisi B 3332 KVM bertabrakan dengan sebuah mobil listrik bernomor polisi B 1715 KNR saat hendak melakukan putar arah. Benturan tersebut menyebabkan keduanya mengalami luka dengan kondisi berbeda. DR dilaporkan mengalami cedera berupa retak pada tulang telapak kaki kiri, sementara SA terpental akibat benturan dan mengalami cedera pada bagian kepala sehingga kemudian dibawa untuk mendapatkan pertolongan medis.

Menurut keterangan keluarga, SA tiba di RS Juwita sekitar pukul 08.03 WIB untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis. Pada saat pertama mendapatkan perawatan, kondisi SA disebut masih dalam keadaan sadar dan masih mampu menyampaikan keluhan kepada keluarga. Pasien dilaporkan mengeluhkan rasa pusing setelah mengalami kecelakaan. Namun, seiring berjalannya waktu, keluarga menyebut kondisi SA mengalami perubahan dan pasien kemudian kehilangan kesadaran. Situasi tersebut membuat keluarga semakin khawatir karena cedera kepala akibat kecelakaan membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi pasien.

Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tenaga medis, keluarga kemudian memperoleh informasi bahwa SA membutuhkan pemeriksaan menggunakan fasilitas CT-Scan. Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, fasilitas pemeriksaan tersebut tidak tersedia di RS Juwita sehingga pasien perlu mendapatkan rujukan ke rumah sakit lain. Keluarga kemudian mengikuti proses administrasi dan menyetujui rujukan pasien ke RS Primaya Bekasi Utara. Pihak keluarga berharap proses pemindahan dapat dilakukan secepatnya mengingat kondisi pasien disebut mengalami penurunan kesadaran dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan terhadap kemungkinan cedera pada bagian kepala.

Namun, persoalan kemudian muncul ketika keluarga mengaku harus menunggu cukup lama untuk proses kedatangan ambulans rujukan. Pihak keluarga menyebut telah berulang kali menanyakan perkembangan proses pemindahan pasien kepada pihak rumah sakit. Mereka berharap memperoleh kepastian mengenai kapan ambulans akan datang dan kapan pasien dapat diberangkatkan menuju rumah sakit tujuan. Akan tetapi, menurut keluarga, informasi yang diterima dinilai belum memberikan kepastian mengenai waktu keberangkatan maupun perkembangan proses koordinasi antara rumah sakit asal dengan rumah sakit rujukan.

“Keluarga berulang kali menanyakan ke administrasi ICU mengenai perkembangan pasien dan kapan akan dipindahkan. Kami hanya diminta bersabar, tetapi tidak mendapatkan penjelasan yang jelas mengenai kondisi pasien maupun kepastian waktu keberangkatan,” ujar H, kakak tertua DR. Pernyataan tersebut disampaikan keluarga sebagai bentuk kekhawatiran mereka terhadap kondisi SA yang saat itu membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Keluarga mengaku tidak bermaksud mempersulit proses pelayanan, namun berharap memperoleh informasi yang jelas mengenai setiap tahapan penanganan dan rujukan pasien.

Menurut keterangan keluarga, ambulans rujukan baru tiba di RS Juwita sekitar pukul 17.55 WIB. Jika dihitung sejak SA tiba untuk mendapatkan pertolongan medis sekitar pukul 08.03 WIB, terdapat rentang waktu hampir 10 jam hingga ambulans rujukan datang dan pasien dipindahkan. Lamanya waktu tersebut kemudian menjadi pertanyaan bagi keluarga, terlebih kondisi pasien disebut mengalami penurunan kesadaran setelah sebelumnya masih sadar dan mengeluhkan pusing. Keluarga mempertanyakan apakah selama menunggu proses rujukan tersebut seluruh kebutuhan medis pasien telah mendapatkan pemantauan dan penanganan sesuai kondisi yang dialaminya.

Keluarga menilai persoalan yang perlu mendapatkan perhatian bukan semata-mata mengenai lamanya waktu menunggu ambulans, melainkan juga komunikasi selama proses rujukan berlangsung. Dalam kondisi pasien yang disebut kritis atau mengalami penurunan kesadaran, keluarga membutuhkan informasi yang dapat menjelaskan perkembangan kondisi pasien secara berkala. Informasi tersebut antara lain mengenai tindakan medis yang telah diberikan, alasan pasien harus dirujuk, kondisi terakhir pasien, serta sejauh mana koordinasi dengan rumah sakit tujuan telah dilakukan. Menurut keluarga, kejelasan informasi sangat dibutuhkan agar mereka dapat memahami situasi dan mengambil keputusan dengan baik.

Keluarga juga mempertanyakan bagaimana mekanisme rujukan pasien dijalankan sejak keputusan untuk merujuk SA ditetapkan hingga ambulans tiba di RS Juwita. Mereka berharap pihak rumah sakit dapat memberikan penjelasan secara rinci mengenai waktu pengambilan keputusan rujukan, proses komunikasi dengan rumah sakit tujuan, proses pencarian atau pemesanan ambulans, serta kendala yang menyebabkan pasien harus menunggu hingga sore hari. Keluarga menilai seluruh tahapan tersebut penting untuk diketahui agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pihak keluarga dan rumah sakit terkait pelayanan yang diterima pasien.

Atas kejadian tersebut, keluarga meminta manajemen RS Juwita melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap pelayanan yang diberikan kepada SA. Evaluasi tersebut diharapkan mencakup penanganan awal ketika pasien datang, pemantauan kondisi pasien selama berada di rumah sakit, keputusan untuk melakukan rujukan, komunikasi dengan rumah sakit tujuan, hingga proses kedatangan ambulans. Keluarga berharap evaluasi tidak hanya dilakukan untuk mengetahui penyebab lamanya proses rujukan, tetapi juga menjadi bahan perbaikan agar pelayanan terhadap pasien dalam kondisi darurat dapat berjalan lebih cepat, terkoordinasi, dan transparan.

Keluarga juga berharap pihak RS Juwita dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai kronologi pelayanan yang diterima SA sejak pukul 08.03 WIB hingga akhirnya ambulans rujukan tiba sekitar pukul 17.55 WIB. Penjelasan tersebut dinilai penting untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di tengah keluarga, terutama mengenai kondisi pasien selama menunggu proses rujukan. Selain itu, keluarga berharap adanya perbaikan sistem komunikasi antara rumah sakit, keluarga pasien, dan rumah sakit tujuan sehingga pihak keluarga tidak merasa kehilangan kepastian ketika menghadapi situasi kegawatdaruratan.

Sementara itu, dugaan adanya kelalaian atau pelanggaran terhadap ketentuan pelayanan kesehatan dalam kejadian tersebut masih perlu dibuktikan melalui pemeriksaan, klarifikasi, dan penelusuran terhadap seluruh rangkaian pelayanan yang diberikan. Keterangan yang disampaikan keluarga merupakan informasi dari salah satu pihak dan belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa telah terjadi pelanggaran hukum atau kelalaian medis. Karena itu, diperlukan penjelasan dari pihak manajemen RS Juwita serta pihak terkait lainnya untuk mengetahui secara utuh alasan dan kendala yang terjadi selama proses rujukan pasien SA.

Hingga berita ini disusun, pihak keluarga masih menunggu penjelasan dan pertanggungjawaban dari manajemen RS Juwita mengenai proses penanganan serta rujukan SA. Keluarga berharap kejadian tersebut dapat menjadi perhatian serius bagi penyelenggara pelayanan kesehatan, khususnya dalam menangani pasien korban kecelakaan yang membutuhkan tindakan dan pemeriksaan lanjutan. Mereka juga berharap adanya evaluasi terhadap sistem rujukan sehingga pasien dalam kondisi darurat tidak mengalami waktu tunggu yang panjang tanpa kepastian. Dengan adanya penjelasan dari seluruh pihak, diharapkan persoalan ini dapat diketahui secara terang dan menjadi bahan perbaikan pelayanan kesehatan di Kota Bekasi.

(Reporter Y.A)