Penguatan Kearifan Lokal Jadi Fondasi Pelestarian Lingkungan di Karawang


KARAWANG, JagatNusantara.co.id
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol Jawa Barat) menggelar kegiatan bertajuk “Penguatan Kearifan Lokal dalam Upaya Pelestarian Lingkungan: Ngakar Budaya, Ngawangun Jabar Istimewa” di RM Sindang Reret, Kabupaten Karawang, Selasa (3 Maret 2026) siang. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam memperkuat peran budaya lokal sebagai fondasi pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.


Acara tersebut dihadiri perwakilan Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Barat yang diwakili Kepala Bidang Ketahanan Ekonomi, Sosial Budaya, Agama, dan Kemasyarakatan Irman Nugraha, SH., MH., Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Pipik Taufik Ismail, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Karawang Aep Mahfudin, M.Si., aktivis dialog antaragama Wawan Gunawan dan Rizqi Hamdani, S.NS., serta para tamu undangan lainnya.


Dalam sambutannya, perwakilan Bakesbangpol Provinsi Jawa Barat menegaskan bahwa penguatan kearifan lokal menjadi kunci penting dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat di tengah pesatnya pembangunan dan perubahan sosial.


“Budaya bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan dalam menjaga persatuan, harmoni sosial, serta kelestarian lingkungan. Melalui penguatan kearifan lokal, kami ingin menjadikan nilai-nilai budaya sebagai fondasi utama pembangunan daerah di Jawa Barat,” ujar Irman Nugraha.


Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Pipik Taufik Ismail, menilai Kabupaten Karawang memiliki potensi budaya yang besar dan harus mendapatkan perhatian serius. Ia menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mengesampingkan kekayaan budaya lokal.


“Karawang dikenal dengan goyangnya, tetapi jangan sampai aspek budaya lainnya tertinggal. Budaya kita sangat besar dan harus menjadi perhatian bersama,” ujarnya.


Pipik juga menyoroti masih minimnya pelibatan budayawan lokal dalam berbagai agenda dan kegiatan daerah. Ia mendorong agar para budayawan diberi ruang, difasilitasi, serta dilibatkan secara aktif dalam setiap kegiatan kebudayaan di Kabupaten Karawang.


Sementara itu, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Karawang, Aep Mahfudin, M.Si., menekankan pentingnya penguatan identitas daerah berbasis nilai-nilai kearifan lokal sebagai pondasi ketahanan sosial dan kebangsaan.

,
“Pertumbuhan ekonomi membawa kompleksitas sosial. Tantangan muncul ketika struktur sosial berubah cepat, sementara nilai budaya tertinggal. Karawang bukan hanya kawasan industri, tetapi juga memiliki akar budaya Sunda dan sejarah sebagai lumbung padi nasional,” jelasnya.


Sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyerahan simbolis bibit pohon alpukat kepada perwakilan lima wilayah di Kabupaten Karawang.


Diskusi menghadirkan tiga narasumber yang memaparkan materi seputar tema Ngakar Budaya, Ngawangun Jabar Istimewa. Aktivis dialog antaragama Wawan Gunawan menekankan bahwa keberagaman Indonesia—mulai dari bahasa, agama, hingga kekayaan hayati—merupakan kekuatan besar bangsa yang harus dijaga bersama.


“Dengan menjaga keberagaman dan kearifan lokal, kita turut menjaga persatuan bangsa sekaligus kelestarian alam,” ujarnya.


Sementara itu, Rizqi Hamdani menyoroti pentingnya sinergi antara nilai-nilai agama dan kearifan lokal Sunda dalam membangun kesadaran kolektif untuk merawat lingkungan dan memperkuat identitas Jawa Barat.


Melalui kegiatan ini, Bakesbangpol Jawa Barat berharap penguatan kearifan lokal tidak berhenti pada tataran wacana, tetapi dapat terimplementasi dalam kebijakan dan gerakan nyata masyarakat, sehingga pelestarian lingkungan dan pembangunan daerah dapat berjalan selaras dengan nilai-nilai budaya lokal dan cita-cita Jabar Istimewa.