Rakyat Bergerak, Pemerintah Diuji di Jalan Nasional Cikampek


KARAWANG, JagatNusantara.co.id
Kerusakan Jalan Nasional 1 di wilayah Cikampek bukan lagi sekadar persoalan aspal berlubang. Bagi masyarakat Cikampek, kondisi ini telah menjadi simbol kekecewaan terhadap pemerintah yang dinilai lamban dan abai terhadap keselamatan warganya sendiri. Setiap lubang di jalan itu adalah ancaman, setiap retakan aspal adalah peringatan.


Aksi mahasiswa, pengemudi ojek online, kurir daring, dan masyarakat Cikampek menjadi luapan keresahan yang selama ini dipendam. Mereka turun ke jalan bukan untuk mencari keributan, melainkan karena merasa tidak lagi didengar oleh para pengambil kebijakan.


“Kami capek menunggu. Jalan rusak ini bukan sehari dua hari, tapi sudah lama,” ungkap seorang warga Cikampek dengan nada kecewa.


Bagi masyarakat, Jalan Nasional 1 adalah jalur utama menuju tempat kerja, sekolah, pasar, dan rumah sakit. Ketika jalan itu rusak parah, yang terancam bukan hanya kendaraan, tetapi juga nyawa dan masa depan keluarga.


“Setiap berangkat kerja kami takut. Pulang kerja juga takut. Tapi pemerintah seperti tidak merasakan,” keluh warga lainnya.


Kekecewaan makin dalam ketika masyarakat melihat tidak adanya kehadiran pejabat untuk mendengar langsung aspirasi mereka. Bagi warga, ketidakhadiran itu mencerminkan jarak yang lebar antara pemerintah dan rakyat di lapangan.


“Kalau pejabat lewat sini setiap hari, mungkin jalan ini sudah lama mulus,” ucap seorang pengendara roda dua yang disambut anggukan warga lain.


Pemerintah tidak bisa terus berlindung di balik alasan kewenangan. Meski Jalan Nasional 1 berada di bawah tanggung jawab pemerintah pusat, masyarakat Cikampek menilai pemerintah daerah tetap memiliki kewajiban moral untuk memperjuangkan keselamatan warganya.


“Kami ini warga Karawang, bukan warga kelas dua. Kenapa keselamatan kami seperti tidak dianggap penting?” ujar seorang peserta aksi dengan suara tertahan.


Selama ini pemerintah kerap menyebut adanya anggaran dan program pemeliharaan rutin. Namun bagi masyarakat, pernyataan itu tidak pernah benar-benar terlihat di lapangan. Jalan tetap rusak, kecelakaan terus terjadi, dan keluhan seolah menguap begitu saja.


Masyarakat Cikampek terus bertanya: apakah pemerintah menunggu korban berikutnya untuk bertindak? Apakah nyawa rakyat harus jatuh lebih dulu agar perbaikan dianggap mendesak?


Aksi damai yang dilakukan warga adalah peringatan. Ini adalah alarm sosial bahwa kesabaran publik ada batasnya. Ketika rakyat kecil, mahasiswa, dan pekerja harian bersatu, itu menandakan ada persoalan serius yang tidak bisa lagi ditutup-tutupi.


Masyarakat Cikampek menuntut satu hal yang sederhana namun mendasar: pemerintah harus hadir. Hadir dengan tindakan nyata, bukan sekadar janji. Hadir dengan perbaikan jalan yang jelas, transparansi anggaran, dan komunikasi yang jujur kepada publik.


Jika pemerintah terus diam, kekecewaan ini akan semakin membesar. Dan ketika harapan benar-benar habis, yang tersisa hanyalah kemarahan masyarakat Cikampek terhadap pemerintah yang dianggap gagal melindungi keselamatan warganya sendiri, pungkas masyarakat yang merasa kecewa terhadap pemerintah hingga pukul 17:00 pemerintah belum memberikan keterangan.