Pemdes Amansari Peringati Isra Mi’raj dan Sambut Ramadhan 1447 H, Antusiasme Warga Mengalir Sejak Pagi

KARAWANG, JagatNusantara.co.id
Pemerintah Desa Amansari, Kecamatan Rengasdengklok, Kabupaten Karawang, menggelar peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan penyambutan bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Selasa (3/2/2026). Kegiatan keagamaan yang dipusatkan di kediaman Kepala Desa Amansari itu menjadi magnet spiritual bagi warga yang datang berbondong-bondong sejak pagi hari.


Gelombang masyarakat dari berbagai lapisan memenuhi lokasi acara. Tokoh agama, perangkat desa, ibu-ibu majelis taklim, hingga warga umum tampak larut dalam suasana religius yang kental, menghadirkan nuansa kekhusyukan yang kuat dan menyejukkan.


Peringatan Isra Mi’raj tersebut bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang pertemuan batin antara pemerintah desa dan masyarakat dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya nilai keimanan dan kebersamaan sosial.
Kepala Desa Amansari, Hanapi, dalam sambutannya menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah peristiwa fundamental dalam sejarah Islam yang sarat pesan moral dan spiritual. Ia mengingatkan bahwa makna Isra Mi’raj harus hidup dalam perilaku, bukan berhenti pada seremoni.


“Isra Mi’raj mengajarkan disiplin ibadah, ketaatan kepada Allah, serta keteguhan iman. Nilai-nilai ini harus tercermin dalam sikap dan tindakan kita, terutama menjelang Ramadhan,” ujar Hanapi dengan nada tegas.


Hanapi menilai, kegiatan keagamaan seperti ini menjadi perekat sosial yang efektif di tengah dinamika kehidupan masyarakat desa. Menurutnya, kedekatan emosional antara pemerintah desa dan warga terbangun melalui ruang-ruang spiritual semacam ini.


Ia menegaskan komitmen Pemdes Amansari untuk menjadikan pembangunan spiritual sebagai fondasi pembangunan desa secara menyeluruh, sejalan dengan upaya membangun masyarakat yang berkarakter, religius, dan berakhlak.


Untuk memperdalam pemahaman jamaah, Pemdes Amansari menghadirkan penceramah nasional, K.H. Hilman Mubarok, yang lebih dikenal dengan sebutan Roma Muda, dari Sukabumi.
Dalam tausiyahnya, K.H. Hilman Mubarok menegaskan bahwa Isra Mi’raj merupakan hak mutlak Allah SWT dan menjadi bukti keistimewaan Nabi Muhammad SAW sebagai manusia pilihan yang dimuliakan langsung oleh Sang Maha Pencipta.


“Isra Mi’raj bukan perjalanan biasa. Ini adalah peristiwa agung yang melampaui logika manusia dan hanya dianugerahkan kepada Rasulullah SAW,” tuturnya dengan tekanan makna.


Ia menguraikan bahwa terdapat dua latar penting terjadinya Isra Mi’raj. Pertama, adanya simbol keagungan antara langit dan bumi, yang masing-masing menunjukkan kemuliaannya di hadapan Allah SWT.


“Langit memang indah, tetapi bumi menyimpan mutiara paling mulia, yakni Rasulullah SAW,” ucapnya sambil mengutip hadis qudsi Laulaka, laulaka, lama kholaqtul aflak.


Alasan kedua, lanjutnya, Isra Mi’raj terjadi pada masa Aamul Huzni, tahun duka Rasulullah SAW, ketika beliau kehilangan dua penopang utama perjuangan dakwah, Abu Thalib dan Siti Khadijah binti Khuwailid.


“Siti Khadijah adalah perempuan agung. Seluruh hidup dan hartanya habis untuk dakwah Rasulullah. Ketika wafat, beliau tidak meninggalkan kemewahan dunia,” ujarnya dengan suara bergetar.


Peringatan Isra Mi’raj di Desa Amansari berlangsung khidmat dan sarat makna. Kegiatan ini tidak hanya menguatkan spiritualitas warga, tetapi juga menjadi pengingat kolektif untuk menyambut Ramadhan dengan kesungguhan iman, ketajaman akhlak, dan kepedulian sosial yang nyata.